http://ejournal.stikespantirapih.ac.id/index.php/jurkes/issue/feedI Care Jurnal Keperawatan STIKes Panti Rapih2026-07-01T09:01:14+00:00Bernadetta Eka Noviati,jurnalicare@stikespantirapih.ac.idOpen Journal Systemshttp://ejournal.stikespantirapih.ac.id/index.php/jurkes/article/view/383Hubungan Antara Pengetahuan dan Perilaku Siswi Membuang Sampah Pembalut di SMP Negeri 216 Jakarta2026-04-02T06:04:45+00:00Maria Viana Nuwaennarosalina40@gmail.comEnna Rossalina Sennarosalina40@gmail.com<p><strong>Latar Belakang</strong> : Di Indonesia, jenis pembalut yang paling populer saat ini adalah pembalut komersial atau pembalut sekali pakai, yang tersedia secara luas di supermarket. Pembuangan sampah pembalut sekali pakai masih digabungkan dengan sampah lainya. Sampah pembalut yang tidak dibuang dengan benar dapat mencemari lingkungan dan kesehatan manusia.</p> <p><strong>Tujuan</strong> : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dan perilaku siswi membuang sampah pembalut di SMP Negeri 216 Jakarta Pusat.</p> <p><strong>Metode</strong> : Jenis penelitian ini kuantitatif dengan desain cross sectional. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara <em>total sampling</em>. Responden 160 yang memenuhi kriteria inklusi. Instrumen penelitian kuesioner digunakan untuk mengetahui pengetahuan dan perilaku siswi membuang sampah pembalut. Analisis data menggunakan <em>chi-Square</em>.</p> <p><strong>Hasil </strong>: Hasil penelitian ini menunjukan persentase terbesar siswi SMPN mempunyai pengetahuan yang tinggi tentang sampah pembalut (38,8%) dan perilaku membuang sampah pembalut kategori baik (65,6%). Ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan dan perilaku siswi membuang sampah pembalut (p value = 0,015).</p> <p><strong>Simpulan </strong>: Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi pengetahuan siswi tentang cara yang benar membuang sampah pembalut, semakin baik juga perilaku mereka dalam melakukannya. Penelitian ini menyarankan perlunya peningkatan edukasi mengenai pembuangan sampah pembalut di kalangan siswi untuk meningkatkan perilaku yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.</p> <p><strong>Kata Kunci : </strong>Pengatahuan, Perilaku, Pembuangan Sampah Pembalut</p>2026-03-26T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 I Care Jurnal Keperawatan STIKes Panti Rapihhttp://ejournal.stikespantirapih.ac.id/index.php/jurkes/article/view/396Analisis Praktik Keperawatan Dengan Intervensi Stimulasi Oral Terhadap Peningkatan Berat Badan BBLR2026-04-02T06:04:21+00:00Tiara2511102412093@umkt.ac.idNur Fithriyanti Imamahnfi573@umkt.ac.idFatma Zulaikhafz658@umkt.ac.idNi Wayan Wiwin Asthiningsihnww131@umkt.ac.id<div class="flex flex-col text-sm pb-25"> <article class="text-token-text-primary w-full focus:outline-none [--shadow-height:45px] has-data-writing-block:pointer-events-none has-data-writing-block:-mt-(--shadow-height) has-data-writing-block:pt-(--shadow-height) [&:has([data-writing-block])>*]:pointer-events-auto scroll-mt-[calc(var(--header-height)+min(200px,max(70px,20svh)))]" dir="auto" tabindex="-1" data-turn-id="request-WEB:48a2cd81-6a88-46b0-a0b8-e1f3493a5e67-1" data-testid="conversation-turn-4" data-scroll-anchor="true" data-turn="assistant"> <div class="text-base my-auto mx-auto pb-10 [--thread-content-margin:--spacing(4)] @w-sm/main:[--thread-content-margin:--spacing(6)] @w-lg/main:[--thread-content-margin:--spacing(16)] px-(--thread-content-margin)"> <div class="[--thread-content-max-width:40rem] @w-lg/main:[--thread-content-max-width:48rem] mx-auto max-w-(--thread-content-max-width) flex-1 group/turn-messages focus-visible:outline-hidden relative flex w-full min-w-0 flex-col agent-turn" tabindex="-1"> <div class="flex max-w-full flex-col grow"> <div class="min-h-8 text-message relative flex w-full flex-col items-end gap-2 text-start break-words whitespace-normal [.text-message+&]:mt-1" dir="auto" data-message-author-role="assistant" data-message-id="a5a99cfb-43b4-4992-af32-2bf11395ba2e" data-message-model-slug="gpt-5-2"> <div class="flex w-full flex-col gap-1 empty:hidden first:pt-[1px]"> <div class="markdown prose dark:prose-invert w-full wrap-break-word light markdown-new-styling"> <p><strong>Latar Belakang:</strong> Bayi BBLR memiliki sistem fisiologis yang belum matang, termasuk fungsi oral-motor, sehingga berisiko tinggi mengalami masalah menyusui tidak efektif. Kondisi ini dapat menyebabkan asupan nutrisi yang tidak adekuat, keterlambatan peningkatan berat badan, serta memperpanjang lama perawatan. Permasalahan tersebut memerlukan intervensi keperawatan yang bersifat non-farmakologis, aman, dan dapat diterapkan secara berkelanjutan untuk mendukung kemampuan menyusu dan pertumbuhan bayi.</p> <p><strong>Tujuan:</strong> Penelitian ini bertujuan menganalisis penerapan stimulasi oral pada bayi BBLR dengan masalah menyusui tidak efektif di ruang NICU serta mengevaluasi dampaknya terhadap peningkatan berat badan dan kematangan refleks menyusu.</p> <p><strong>Metode:</strong> Metode yang digunakan adalah analisis kasus dengan pendekatan asuhan keperawatan komprehensif yang meliputi pengkajian, penetapan diagnosis keperawatan, perencanaan, implementasi, dan evaluasi. Subjek adalah bayi BBLR yang dirawat di ruang NICU RSUD Inche Abdoel Moeis dengan diagnosis menyusui tidak efektif. Intervensi berupa stimulasi oral diberikan secara terstruktur sesuai standar operasional prosedur rumah sakit selama periode perawatan. Evaluasi dilakukan berdasarkan perubahan berat badan serta respons refleks oral-motor bayi.</p> <p><strong>Hasil:</strong> Hasil evaluasi menunjukkan bahwa pemberian stimulasi oral secara rutin memberikan dampak positif terhadap kondisi bayi. Terjadi peningkatan berat badan meskipun belum sepenuhnya mencapai target optimal sesuai usia gestasi. Selain itu, ditemukan perbaikan refleks hisap dan refleks rooting sebagai luaran tambahan yang diamati secara objektif selama proses evaluasi keperawatan. Respons ini menunjukkan adanya adaptasi fisiologis bayi terhadap intervensi stimulasi oral yang diberikan.</p> <p><strong>Simpulan:</strong> Penerapan stimulasi oral pada bayi BBLR dengan masalah menyusui tidak efektif menunjukkan hasil yang positif dalam mendukung peningkatan berat badan dan kematangan refleks menyusu. Stimulasi oral dapat direkomendasikan sebagai bagian dari intervensi keperawatan di ruang NICU untuk membantu proses menyusu dan menunjang pertumbuhan bayi secara optimal. Perawat diharapkan dapat mendampingi dan menerapkan intervensi ini secara konsisten sebagai bagian dari asuhan keperawatan neonatal.</p> <p><strong>Kata kunci:</strong> Bayi Berat Lahir Rendah, Stimulasi Oral, Peningkatan Berat Badan</p> </div> </div> </div> </div> </div> </div> </article> </div>2026-03-31T01:43:45+00:00Copyright (c) 2026 I Care Jurnal Keperawatan STIKes Panti Rapihhttp://ejournal.stikespantirapih.ac.id/index.php/jurkes/article/view/401Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Pelaksanaan Komunikasi Terapeutik Perawat di Poliklinik RS X Jakarta2026-04-02T06:04:00+00:00Stefanus Idesstefanus@stik-sintcarolus.ac.idTri Yulia Fajarwati202412040@stik-sintcarolus.ac.id<p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p><strong>Latar belakang :</strong> Komunikasi terapeutik merupakan kompetensi fundamental dalam pelayanan keperawatan yang berpengaruh terhadap kepuasan pasien. Data menunjukkan tingkat kepuasan pasien rawat jalan RS X Jakarta berkisar 75-87% dengan keluhan utama terkait komunikasi perawat yang kurang informatif.</p> <p><strong>Tujuan :</strong> Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan pelaksanaan komunikasi terapeutik perawat di Poliklinik RS X Jakarta.</p> <p><strong>Metode :</strong> Metode yang digunakan adalah berupa penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional melibatkan 53 perawat poliklinik yang dipilih melalui total sampling. Instrumen penelitian terdiri dari kuesioner karakteristik demografi, pengetahuan, persepsi, kecerdasan emosi, dan lembar observasi pelaksanaan komunikasi terapeutik. Analisis data menggunakan uji Kendall tau b dan Kendall tau c dengan tingkat kemaknaan α=0,05.</p> <p><strong>Hasil :</strong> Dari penelitian ini dihasilkan bahwa mayoritas responden berpendidikan S1/Ners (56,6%), masa kerja kurang dari 5 tahun (54,7%), memiliki pengetahuan baik (66%), persepsi positif (64,2%), dan kecerdasan emosi baik (66%). Pelaksanaan komunikasi terapeutik berada pada kategori cukup (81,1%). Terdapat hubungan signifikan antara lama kerja (p=0,002) dan pengetahuan (p=0,026) dengan pelaksanaan komunikasi terapeutik, sedangkan pendidikan (p=0,108), persepsi (p=0,573), dan kecerdasan emosi (p=1,000) tidak menunjukkan hubungan bermakna. <br><strong>Simpulan :</strong> lama kerja dan pengetahuan merupakan faktor yang berhubungan signifikan dengan pelaksanaan komunikasi terapeutik. Diperlukan pengembangan Standar Operasional Prosedur, penguatan program pelatihan, dan sistem monitoring berkelanjutan untuk mengoptimalkan pelaksanaan komunikasi terapeutik perawat.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> komunikasi terapeutik, pengetahuan perawat, lama kerja, poliklinik, kepuasan pasien</p>2026-03-31T02:57:59+00:00Copyright (c) 2026 I Care Jurnal Keperawatan STIKes Panti Rapihhttp://ejournal.stikespantirapih.ac.id/index.php/jurkes/article/view/389Menakar Gelisah Sebelum Bersumpah: Gambaran Kecemasan Akademik Mahasiswa Keperawatan Jelang Ujian Kompetensi Nasional2026-04-07T06:15:31+00:00Agnes Erida Wijayantieridaagnes@gmail.comFajri Fahrizaleridaagnes@gmail.comIstichomaheridaagnes@gmail.com<p><strong>Latar Belakang</strong> : Ujian Kompetensi Nasional (UKN) merupakan penentu dan kelayakan lulusan keperawatan untuk memasuki dunia profesi, sehingga sering menimbulkan tekanan psikologi pada mahasiswa. Di STIKES Wira Husada Yogyakarta, meskipun capaian UKN belum maksimal, namun Tingkat kecemasan mahasiswa menjelang ujian belum banyak di eksplorasi secara empiris. Padahal, kecemasan yang berlebihan dapat menganggu konsentrasi, performa akademik, bahkan kesejahteraan mental.</p> <p><strong>Tujuan</strong>: Menganalisis tingkat kecemasan menjelang ujian kompetensi nasional mahasiswa keperawatan di STIKES Wira Husada Yogyakarta.</p> <p><strong>Metode Penelitian</strong> : Data sampling total dikumpulkan dalam penelitian deskriptif analitik. Dalam penelitian ini, desain penelitian cross-sectional digunakan untuk menentukan prevalensi. Sampel terdiri dari 32 orang yang menjawab kuesioner <em>Hamilton Anxiety Rating Scale</em> (HARS).</p> <p><strong>Hasil</strong> : Tingkat kecemasan paling banyak pada mahasiswa berusia ≤25 tahun dengan kategori tidak cemas (9 responden atau 28, 1 %); Berdasarkan jenis kelamin, tingkat kecemasan paling banyak terjadi pada mahasiswa perempuan, dengan kategori tidak cemas (9 responden atau 28,1%), namun terdapat 3 orang (9,4%) mahasiswa perempuan, dan 1 orang (3,1%) mahasiswa laki-laki mengalami kecemasan berat. Mahasiswa yang mengalami kecemasan berat paling banyak terdapat pada kelompok yang tinggal bersama orang tua, yaitu 4 responden (12,5%), dibandingkan dengan yang tidak tinggal bersama orang tua sebanyak 2 responden (6,3%).Responden yang mengalami kecemasan berat terbanyak terdapat pada kelompok dengan kondisi finansial ekonomi mampu, yaitu 3 responden (9,4%), sedangkan pada kelompok tidak mampu terdapat 2 responden (6,3%).</p> <p><strong>Simpulan</strong> : Hasil penelitian dapat disimpulkan tingkat kecemasan (ringan, sedang, maupun berat) paling banyak terjadi pada mahasiswa perempuan berusia ≤25 tahun yang tinggal bersama orang tua dan berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi mampu.</p> <p> </p> <p> </p>2026-03-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 I Care Jurnal Keperawatan STIKes Panti Rapihhttp://ejournal.stikespantirapih.ac.id/index.php/jurkes/article/view/399Analisis Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Pemberian ASI Eksklusif Pada Karyawan RS X di Jakarta Selatan2026-04-07T06:15:08+00:00Utami Luciasrluciautamicb22@gmail.comFrenta Helena Simaibangdeprab24@yahoo.comYolanda Widya Pratiwideprab24@yahoo.com<p><strong>Introduction: </strong>Exclusive breastfeeding is a fundamental step in ensuring the health and survival of infants, and provides long-term benefits for mothers. Although the benefits of exclusive breastfeeding have been proven through numerous studies, exclusive breastfeeding rates in many regions in Indonesia, including Jakarta, still do not meet the standards set by the Indonesian government.</p> <p><strong>Objective:</strong> This study was conducted to determine the factors that most influence the provision of exclusive breastfeeding in working mothers at Hospital X Jakarta.</p> <p><strong>Methods:</strong> The quantitative research design used a descriptive correlational method through a cross-sectional approach. The population in the study was 70 people. The sample size was 70 breastfeeding mothers, obtained through total sampling. The four variables in the study were: breastfeeding knowledge, family support, breastfeeding experience, and exclusive breastfeeding. Chi-square tests and binary logistic regression were used in the statistical analysis.</p> <p><strong>Results:</strong> Bivariate analysis showed that only family support variable had a significant relationship with exclusive breastfeeding (p = 0.003). The knowledge variable (p = 0.027) was not included in the multivariate analysis because it did not meet the theoretical significance limit of p < 0.025. The results of the binary logistic regression test showed that mothers who did not receive family support were 0.22 times less likely to provide exclusive breastfeeding compared to mothers who received family support (Exp(B) = 0.220; p = 0.003).</p> <p><strong>Conclusion:</strong> This study concludes that family support is the most influential factor in the success of exclusive breastfeeding compared to breastfeeding knowledge and breastfeeding experience.</p>2026-03-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 I Care Jurnal Keperawatan STIKes Panti Rapihhttp://ejournal.stikespantirapih.ac.id/index.php/jurkes/article/view/382Hubungan Ketepatan Penilaian Triage Eemergency Severity Index pada Kegawatan Non Trauma dengan Tingkat Kepuasan Keluarga Pasien di IGD Rumah Sakit Panti Rahayu2026-07-01T09:01:14+00:00Henrikus Dwi Prasetyohendp92@gmail.comDwi Antara Nugrahadwi_antaranugraha@stikespantirapih.ac.idHerlin Lidyaherlinlidya@stikespantirapih.ac.id<p style="margin: 0cm; margin-bottom: .0001pt; text-align: justify;"><strong><span style="font-size: 11.0pt;">Background:</span></strong><span style="font-size: 11.0pt;"> This study was conducted to determine the relationship between the accuracy of the <em data-start="244" data-end="270"><span style="font-style: normal;">Emergency Severity Index</span></em> (ESI) triage assessment in non-trauma patients and the level of family satisfaction in the Emergency Department (ED) of Panti Rahayu Hospital.</span></p> <p style="margin: 0cm; margin-bottom: .0001pt; text-align: justify;" data-start="417" data-end="581"><strong data-start="417" data-end="431"><span style="font-size: 11.0pt;">Objective:</span></strong><span style="font-size: 11.0pt;"> To identify the relationship between the accuracy of ESI triage assessment and the level of family satisfaction in the ED of Panti Rahayu Hospital.</span></p> <p style="margin: 0cm; margin-bottom: .0001pt; text-align: justify;" data-start="583" data-end="987"><strong data-start="583" data-end="595"><span style="font-size: 11.0pt;">Methods:</span></strong><span style="font-size: 11.0pt;"> This research used a quantitative design with a retrospective <em data-start="658" data-end="675">cross-sectional</em> approach. Data on triage accuracy were obtained through a review of electronic medical records, while family satisfaction data were collected using a closed-ended questionnaire distributed to the patients’ accompanying family members during their stay in the ED. The total number of respondents was 94 people.</span></p> <p style="margin: 0cm; margin-bottom: .0001pt; text-align: justify;" data-start="989" data-end="1651"><strong data-start="989" data-end="1001"><span style="font-size: 11.0pt;">Results:</span></strong><span style="font-size: 11.0pt;"> The findings showed that most triage assessments were inaccurate (62.8%), while accurate assessments accounted for 37.2%. Meanwhile, the majority of families reported being very satisfied (42.6%), and the fewest were dissatisfied (14.9%). Statistical analysis revealed a very strong and significant relationship between triage accuracy and family satisfaction (r = 0.942; p = 0.000). Most dissatisfied respondents accompanied patients categorized in ESI levels 3 and 4, who generally experienced longer waiting times. This occurred because there were no dedicated triage officers, resulting in some patients not receiving appropriate initial care.</span></p> <p style="margin: 0cm; margin-bottom: .0001pt; text-align: justify;" data-start="1653" data-end="1925"><strong data-start="1653" data-end="1668"><span style="font-size: 11.0pt;">Conclusion:</span></strong><span style="font-size: 11.0pt;"> The accuracy of triage assessments greatly influences family satisfaction. Therefore, it is essential for healthcare workers, especially triage nurses, to perform assessments more carefully to ensure appropriate services and maintain family satisfaction.</span></p> <p style="margin: 0cm; margin-bottom: .0001pt; text-align: justify;" data-start="1927" data-end="2008"><strong data-start="1927" data-end="1940"><span style="font-size: 11.0pt;">Keywords:</span></strong><span style="font-size: 11.0pt;"> ESI triage, family satisfaction, emergency department, non-trauma</span></p>2026-03-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 I Care Jurnal Keperawatan STIKes Panti Rapih